Entri Populer

Sabtu, 09 Maret 2013

peptidoglikan dan bakteri gram-positif



1.     

Peptidoglikan merupakan suatu bahan yang terkandung didalam dinding sel bakteri. Peptidoglikan tersebut terdiri  dari polimer modifikasi gula-gula yang diikatsilangkan dengan polipeptida pendek yang berbeda dari satu spesies ke spesies lain.
Gambar 1. Struktur Kimia Peptidoglikan


2.      Perbedaan antara bakteri gram-positif dengan bakteri gram negative, yaitu pada bakteri gram-positif memiliki dinding sel yang lebih sederhana dengan jumlah peptidoglikan yang relative banyak; dan pada saat pewarnaan akan menahan warna violet. Sedangkan, pada bakteri gram-negatif memiliki dinding sel lebih kompleks yang tersusun atas membran bagian luar dan gel periplasmi; mengandung lipopolisakarida yang sering bersifat toksik (racun); lebih resisten terhadap antibiotik dibandingkan dengan bakteri gram-positif karena adanya membran bagian luar yang menghalangi masuknya obat-obatan; dan pada saat pewarnaan akan menahan warna merah.

3.      Salah satu contoh fungi uniseluler, yaitu khamir (yeast) dari divisi Ascomycota bereproduksi secara aseksual dengan cara pembelahan sel sederhana atau dengan pemisahan dari sel induk; biasanya fungi uniseluler berukuran mikroskopik. Sedangkan fungi multiseluler membentuk hifa; berukuran mikroskopik  atau makroskopik; reproduksi secara aseksual dengan cara spora vegetative, reproduksi secara seksual dengan cara perkawinan antar hifa yang berbeda jenis. Contohnya Rhizopus oryzae dari divisi Zygomycota.


Daftar Pustaka
Bayu, Fitria. 2009.http://biobakteri.wordpress.com/3-dinding-sel/. Diakses 3/3/2013.
Campbell, Neil.A,. Jane, B.Recee,. and Lawrence G. Mitchell. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Ahli bahasa Wasmen. Jakarta. Erlangga.
Campbell, Neil.A,. Jane, B.Recee,. and Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Ahli bahasa Wasmen. Jakarta. Erlangga.

Kamis, 07 Maret 2013

TRANSPIRASI PADA TUMBUHAN


Transpirasi Pada Tanaman Begonia sp.
dan Dieffenbachia sp.


I. PENDAHULUAN
          A. Latar Belakang
Tumbuhan dalam metabolismenya memerlukan air dan unsur hara anorganik dari lingkungan. Air berperan penting dalam kehidupan tumbuhan. Air yang diserap oleh tumbuhan tidak semuanya digunakan, tetapi hanya 10% saja yang digunakannya sedangkan sisanya sebanyak 90% dikeluarkan ke lingkungan luar. Ada beberapa cara kehilangan air dari tubuh tumbuhan, yaitu transpirasi, gutasi, sekresi, dan bleeding.
Transpirasi memiliki arti penting bagi tumbuhan karena berperan dalam hal membantu meningkatkan laju angkutan air dan garam mineral, mengatur suhu tubuh dengan cara melepaskan kelebihan panas dari tubuh, dan mengatur turgor optimum di dalam sel. Transpirasi sendiri di pengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor luar maupun faktor dari dalam tumbuhan itu sendiri.
            B. Permasalahan
Pada percobaan ini menggunakan Begonia sp. dan Dieffenbachia sp. untuk diukur kecepatan relative kehilangan uap airnya. Berapakah kecepatan transpirasi dari kedua tanaman tersebut? Apakah faktor yang mempengaruhi kecepatan transpirasi?
            C. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengukur kecepatan relatif kehilangan uap air dari daun berbagai tumbuhan dengan metode kertas kobalt klorid.

II. TINJAUAN  PUSTAKA
Transpirasi ialah satu proses kehilangan air dari tumbuh-tumbuhan ke atmosfer dalam bentuk uap air. Air diserap dari bulu akar  tumbuhan, kemudian diangkut melalui xilem ke semua bagian tumbuhan khususnya daun. Tidak semua air yang diserap digunakan dalam proses fotosintesis. Air yang berlebihan akan disingkirkan melalui proses transpirasi. Jika kadar kehilangan air melalui transpirasi melebihi kadar pengambilan air tumbuhan tersebut, pertumbuhan pokok akan terhalang. Akibat itu, mereka yang mengusahakan pernanaman secara besar – besaran mungkin mengalami kerugian yang tinggi sekira mengabaikan faktor kadar transpirasi tumbuh – tumbuhan (Devlin, 1983).
            Transpirasi ditentukan oleh membuka dan menutupnya stomata. Membuka menutupnya stoma ditentukan oleh turgor pada sel penutup. Stomata akan membuka apabila turgor sel penutup tinggi dan akan menutup apabila turgor sel rendah. Pada saat turgor tinggi maka dinding sel penutup yang berhadapan pada celah stomata akan tertarik kebelakang sehingga celah menjadi terbuka. Naiknya turgor sel penutup ini disebabkan oleh adanya air yang masuk dari sel tetangga. Akibatnya sel tetangga mengalami kekurangan air dan selnya sedikit mengkerut dan menarik sel penutup ke belakang. Sebaliknya, pada saat turgor sel penutup turun yang disenbabkan oleh kembalinya air dari sel punutup ke sel tetangga, lalu sel tetangga akan mengembang lagi dan mendorong sel penutup ke depan, sehingga akhirnya stomata menutup. Hal ini dapat terjadi karena dinding sel penutup yang berhadapan di bagian celah (stomata) memiliki dinding sel yang elastic , sehingga mudah membuka dan menutup ( Reddy et al,. 2004).
Ada dua faktor yang mempengaruhi transpirasi, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal transpirasi, antara lain:
  1. Cahaya mempengaruhi transpirasi dalam dua cara, yaitu peningkatan tanspiration dengan meningkatnya suhu daun, dan hubungan erat antara pembukaan stomata dengan intensitas cahaya (Rastogi, 1992). Semakin meningkat intensitas cahaya sampai batas optimal, semakin lebar stomata membuka sehingga tranpirasi semakin cepat.
  2. Kelembaban udara. Semakin lembab udaranya, maka laju transpirasi akan semakin lambat.
  3. Temperatur udara. Semakin tinggi temperatur udara, maka semakin cepat laju transpirasinya.
Faktor internal transpirasi yang paling mempengaruhi adalah keadaan stomata; jumlah stomata, distribusi, fitur struktural dan bagaimana stomata membuka (Roberts et al,. 2000).
Tanaman Begonia sp. merupakan tanaman yang hidup di lingkungan mesofit, yaitu beradaptasi pada lingkungan yang tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering, dengan suhu dan kebasahan yang sedang. Tanaman mesofit pada daun dorsiventral umumnya stomata banyak terdapat pada bagian epidermis bawah daun, sedangkan pada bagian atas hanya sedikit atau tidak ada sama sekali (Setjo, 2004). Stomata pada Begonia sp. tedapat banyak di permukaan bawah dan sedikit di permukaan atas, sehingga termasuk daun yang amfistomatik karena stomata terletak di kedua permukaan daun. 
Kobalt (II) klorida adalah zat pada, kristal berwarna merah, sangat mudah menyerap air, bahkan mengikat uap air dalam udara. Zat padatnya yang kering atau dipanaskan sehingga kering, berwarna biru, tetapi segera berubah menjadi merah jika kena air atau uap air. Karena sifatnya itu ia dapat digunakan untuk menguji kelembaban udara.            
Kertas kobalt (II) klorida digunakan untuk menguji apakah suatu cairan mengandung air atau tidak. Perubahan terjadi dari biru menjadi merah.  Kobalt (II) klorida berwarna merah karena kehadiran ion Co(HO)̣̣̣² bila ditambahkan HCl, larutan berubah menjadi biru, akibat pembentukan ion kompleks CoCl². Reaksinya  sebagai berikut :
Co²(aq) + 4Cl(aq)                     CoCl² (aq)
(Chang, 2005)


III.  METODE  
            A. Alat dan Bahan
                           Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain kertas kobalt klorid, penjepit, kipas angin, alat pencatat waktu. Bahan yang digunakan antara lain tanaman Begonia sp. dan Dieffenbachia sp.
    






DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 2. Erlangga.
Devlin, R.M and K.H.Withan. 1983. Plant Phisiology. Williard grant press: Boston.
Rastogi, V.B. 1992. Modern Biologi Vol. II. Pitambar Publishing Company. New Delhi. 
Reddy, S.M, M.M. Rao, A.S. Reddy, M.M. Reddy, and S.J. Chavy. 2004. University Botany-3. New Age International. New Delhi.
Roberts, M., Michael. R, and Brace, M. 2000. Advanced Biology. Nelson. United Kingdom. 
Setjo, Susetyoadi.dkk. 2004. Anatomi Tumbuhan. Malang : JICA UM.

PERCOBAAN - 1 TEKANAN OSMOSIS CAIRAN SEL PADA DAUN Rhoeo discolor


PERCOBAAN - 1
TEKANAN OSMOSIS CAIRAN SEL PADA DAUN Rhoeo discolor

I. PENDAHULUAN
            A. Latar Belakang
Tumbuhan dalam metabolismenya memerlukan air dan unsur hara anorganik dari lingkungan. Air berperan penting dalam kehidupan tumbuhan. Jaringan yang melakukan metabolisme aktif tersusun atas 85-95% air. Penyerapan air oleh tumbuhan banyak dilakukan di bulu akar. Berdasarkan tenaga yang digunakan, penyerapan air dapat bersifat aktif dan pasif. Aktif, apabila menggunakan tenaga hasil metabolisme, sedangkan pasif apabila menggunakan tenaga selain hasil dari metabolisme.
Berdasarkan bentuknya, penyerapan dapat dilakukan secara difusi, osmosis, maupun imbibisi. Peristiwa tersebut dapat berlangsung dengan baik jika terdapat perbedaan tekanan potensial air yang sangat besar antara larutan di luar sel tumbuhan dengan larutan di dalam sel tumbuhan tersebut.
            B. Permasalahan
Pada percobaan ini menggunakan berbagai macam konsentrasi larutan sukrosa. Bagaimanakah pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis?. Berapakah tekanan osmisis cairan sel epidermis Rhoe discolor tersebut?
            C. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk menghitung tekanan osmosis cairan sel dengan metode plasmolisis.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Molekul air dan zat terlarut yang berada dalam sel selalu bergerak. Oleh karena itu terjadi perpindahan terus-menerus dari molekul air, dari satu bagian ke bagian yang lain (Bidwell, 1979). Difusi adalah kecenderungan molekul setiap zat untuk menyebar ke seluruh ruangan yang ada  (Campbell et al., 2002). Osmosis adalah difusi air yang melewati membrane semi permeable ( Rowland, 1992). Plasmolisis adalah suatu proses menyusutnya sel tumbuhan dan akan menarik diri dari dinding sel pada saat berada dalam larutan yang hipertonik (Nor et al., 2008). Apabila  sel dimasukkan ke dalam cairan yang hipotonik, maka air akan masuk ke dalam sel dan protoplasma akan kembali mengembang hal ini disebut deplasmolisis ( Rao and Kaur, 2006). 
Keadaan volume vakuola dapat untuk menahan protoplsma agar tetap menempel pada dinding sel sehingga kehilangan sedikit air saja akan berakibat lepasnya protoplasma dari dinding sel. Peristiwa plasmolisis seperti ini disebut plasmolisis insipien. Plasmolisis insipien terjadi pada jaringan yang separuh jumlahnya selnya mengalami plasmolisis ( Stiles, 2006).  Rhoeo discolor merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh didaerah tropis. Umumnya tanaman ni tumbuh didaerah dingin dan cukup air. Tanaman ini tidak dapat tumbuh didaerah tanah yang jenuh atau tergenang karena batang dan daunnya akan cepat membusuk, dan tanaman ini juga tidak dapat tumbuh didaerah yang kurang air karena daun dan batangnya akan mengerdil ( Fahn, 1991).
Larutan sukrosa merupakan salah satu larutan hipertonik yaitu,suatu larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi (tekanan osmotik yang lebih tinggi) dari pada yang lain sehingga air bergerak ke luar sel.  Rhoeo mempunyai jaringan yang terdiri dari sel-sel yang bentuknya sama dapat juga melakukan fungsi khusus yang dapat juga bersama jaringan lain membentuk fungsi yang lebih kompleks. Pertumbuhan darai tana,mn ini sangat penting pada aktivitas jaringan meristem. Dan jaringanya terbagi dua yang berdasarkan kemampuan untuk tumbuh dan memperbanyak diri yaitu jaringan meristem dan jaringan yang permanen (Sastrodinoto,1980).
Rumus tekanan osmosis adalah sebagai berikut :
Tekanan osmosis sel =  22.4 x M x T
                                                       273
III.  METODE   
            A. Alat dan Bahan
                           Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain mikroskop,tabung reaksi, gelas benda, gelas penutup, pisau silet dan pipet gondok. Bahan yang digunakan antara lain akuades, larutan sukrosa, tissue dan daun tumbuhan Rhoeo discolor.

           
DAFTAR PUSTAKA
Bidwell. R.G.S.1979. Plant Physiology edition 2. Macmillion Publishing. Co : New York
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Gajah Mada Universitas Press:
            Yogyakarta.
Nor, M.H., Wahida, A., Quek, Y.H., Chou, Y.T., and Kee, B.S. 2008. Focus Super Hot SPM Biology. Chee Leong Press. Malaysia. 
Rao, D.K. and J.J. Kaur. 2006. Living Science Biology. Ratna Sagar P. India.
Rowland, Martin. 1992. Biology. Geoff Hayward.
Sastrodinoto, Soenarjo. 1980. Biologi Umum II. PT. Gramedia: Jakarta.
Stiles, Walter. 2006. Principle of  Plant Physiology. Discovery Publishing House. India.